Review The Equalizer 2 : Semua Mengenai Denzel Washington

Review The Equalizer 2 : Semua Mengenai Denzel Washington

Review The Equalizer 2 : Semua Mengenai Denzel Washington

Review The Equalizer 2 : Semua Mengenai Denzel Washington, Walau bukan anggota X-Men yang terpuji, toh sebetulnya kita miliki kepandaian semasing. Ada yang jago ngegambar. Ada yang cakap menyusun kata. Ada yang pinter ngeles. Molly Ringwald saja dapat makek lipstick dengan dadanya. Kepandaian alias ketrampilan spesial itu kita untuk jadikan andalan, dalam bersosialisasi, dalam mencari manfaat diri. Pucuk kebahagiaan ialah kita mengerti kepandaian yang kita punya bisa jadikan menjadi fasilitas pengisi perut. Sebab tidak semua talenta bisa diganti dengan uang. Atau kalau dapat, uang yang dibuat bukan kembali termasuk uang baek-baek.

Seperti Robert McCall. Kita ketahui dari film yang pertama 2014 waktu lalu, kepandaian bapak ini ialah menghabisi nyawa orang setangkas serta seefisien mungkin. Ia beneran nyalain stopwatch di arlojinya sebelum mukulin orang, serta tidak lupa mematikannya waktu manusia yang dia pukuli telah beralih bentuk jadi seonggok daging yang penuh penyesalan serta perasaan sakit. Ketrampilan matahin leher serta memakai beberapa hal menjadi senjata beresiko dia punya karena gemblengan keras sewaktu di agensi militer. Sesudah dia keluar dari sana, tho, dia sadar kepandaiannya sedikit bermanfaat untuk keberlangsungan hidup keseharian. Beberapa orang di seputar McCall harusnya bersukur, orang ini miliki otak yang belum korslet serta hati yang masih tetap lurus. McCall yakin di dunia ini ada dua perasaan sakit; sakit untuk menghukum, serta sakit untuk mengubah-untuk mengobati. Serta kali inilah berkemauan untuk sebisa mungkin memberi peluang pada bandit-bandit itu untuk rasakan sakit yang nomer dua.

Pada sekuel ini, McCall kerja menjadi pengemudi Lyft; seperti ojek mobil online.

Ia mengantar beberapa jenis type orang. Ia actually meminjamkan telinga untuk dengar curhatan mereka, bahkan juga terkadang ia mengambil dengar pembicaraan sebagian dari balik setirnya. Saat ia temukan ada suatu yang tidak beres dengan pemesan ojeknya itu, waktu McCall terasa ada suatu yang salah, jadi lalu ia akan melakukan tindakan menyopir dengan tangan kepribadian serta palu hakimnya sendiri hingga yang salah-salah itu jadi benar. Puncaknya ialah saat hanya satu temannya yang masih tetap tersisa di dunia jadi korban tindakan beberapa orang yang jual kepandaian mereka untuk uang, McCall tentunya langsung mencemplungkan dianya, karena semua jadi personal. Begitu personal.

Jarang sekali mengerjakan cerita-cerita yang merasa pretentious, Antoine Fuqua ingin ajak kita terlibat perbincangan masalah apa yang semestinya kita kerjakan dengan pekerjaan yang kita dapat. Serta The Equalizer 2 ini benar-benar ialah alat yang menarik untuk mengulas masalah itu. Berbalut tindakan brutal serta drama yang gritty – yang miliki nyali memperingatkan dengan intimidasi tuduhan moncong pistol – The Equalizer 2 menyediakan tujuannya dengan begitu seimbang. Sama dengan tokohnya, McCall, yang berupaya menyamakan dunia dari tindakan jelek yang dikerjakan beberapa orang dengan tindakan keji tetapi beritikad baik olehnya, film ini miliki sekuen tindakan sekaligus juga momen-momen ciri-ciri yang sama menariknya untuk dibarengi.

Tidak pelak, Denzel Washington akan membuat kita humble.

Ada sangat banyak yang dapat kita dalami darinya pada film ini. Tampilan aktingnya, mungkin kalian sudah bosen membaca mengenai betrapa legendnya Denzel Washington dalam tiap-tiap peranan yang dia jejaki. Sisi terunggul The Equalizer 2 basically ialah dianya, kita seolah jadi pinter berakting lihat penampilannya di sini. Langkah ia menampilan gesturnya, bagaimana aktor senior ini mentackle adegan-adegan tindakan yang normally bukan ranah ia; mengagumkan. Hingga saya juga jadi cukup menyayangkan, adegan pertempuran paling akhir di film ini terlihat seperti menyia-nyiakan dedikasi Wahington. I mean, duel satu lawan satu dalam tempat kosong itu terlihat begitu meta, membuatku sulit yakin Wahington dapat mengerjakannya tanpa ada stuntman. Apalagi McCall yang sejauh waktu dua jam film ini cuma betul-betul menembakkan pistolnya 1x, selebihnya dia memakai strategi, terlihat dikit di luar ciri-ciri dalam pertarungan diatas menara itu.

Dalam narasi juga, tokoh ini akan memberi saran bagaimana kita bisa saja mencari uang dengan talenta yang kita punya, tetapi kita masih perlu otak untuk membelanjakan uang itu. Satu diantaranya komponen emosional dengan beberapa sekuen mantap yang dipunya oleh film ini datang dari jalinan McCall dengan cowok remaja yang tinggal di dekat apartemennya. McCall jadi seperti profil bapak buat Miles yang masih tetap jadi jati diri. Miles ini hoby menggambar, dia tawarkan diri mengecat lagi tembok apartemen yang dirusak oleh grafiti berandalan. Tetapi si Miles ini tidak yakin kekuatannya ialah perihal yang terbaik yang dia kerjakan. Lingkungan sosialnya melihat rendah pekerjaan melukis. Tidak normal jadi seniman jalanan disana. Uang dicari dengan jalan ‘kerjaan’ yang lainnya, serta Miles hampir melangkahkan kakinya ke jalan itu. McCall seperti melarang anak itu, menggebahnya untuk ambil pilihan yang betul-betul berguna.

Untuk keseimbangan pikiran, dalam mendayakan potensi, tentunya kita membutuhkan hati. Ketrampilan serta kepintaran akan mudah disalahgunakan bila kita tidak miliki batasan kepribadian yang bersumber dari dalam hati. Itu yang memperbedakan Robert McCall dengan beberapa orang yang berkeahlian sama dengan dianya dalam The Equalizer 2. Hati yang ada dalam tempat yang benar dapat memberi kemampuan untuk lakukan perihal yang benar, menaklukkan pikiran yang kadang begitu cepat menyimpulkan, begitu tinggi dalam memandang, serta begitu gegabah dalam memutuskan.

Review The Equalizer 2 : Semua Mengenai Denzel Washington

Plot penceritaan film ini sebetulnya dapat dibikin lebih baik kembali. Susunan peristiwa mungkin dapat dirubah dikit formasinya, sebab berasa panjang sekali sebelum kejadian-kejadian di film ini berasa sama-sama kohesif. Peristiwa penting pada narasi ialah saat ada masalah penembakan suami istri di Brussel yang dibikin seakan aksi pembunuhan-dan-bunuh diri. Masalah ini menyeret McCall serta teman-temannya serta adalah awal konfrontasi tokoh penting kita dengan waktu lalunya. Akan tetapi, sebelum sampai kesana kita melalui banyak adegan-adegan yang tidak meningkatkan untuk kepentingan peristiwa ini. Di awal-awal itu kita akan lihat bagaimana McCall menolong beberapa orang yang dia antar. Seperti ada seseorang kakek yang berupaya memperoleh kembali lukisan kakaknya sewaktu kecil. Narasi kecil ini tidak lakukan apa-apa pada persoalan yang sebetulnya. Bahkan juga sedikit adegan tindakan yang ikut serta. It just takes a long time sebelum kita ketahui mengarah manakah sebetulnya cerita film ini meluncur.

Lihat Denzel Washington menggebuk beberapa orang brengsek dengan brutal serta tanpa ada ampun, terampil serta mematikan, ialah hiburan tertentu. Lihat ia berhubungan serta coba menolong beberapa orang sebelum mereka sudah terburu jadi orang brengsek – meskipun trope orang dewasa berkoneksi dengan remaja seringkali dikerjakan, bahkan juga oleh film pertamanya – adalah anugerah karena kita mendapatkan banyak dialog yang powerful. Sayangnya plot narasi tidak sekuat tampilan akting ataupun laganya yang seimbang memuaskan. Menahan film ini menjadi begitu memorable. It is a fine watch, tapi perlu terlalu panjang waktu untuk betul-betul mulai nendang.

Partner : Bandarq Online

Tinggalkan Balasan